Setelah 3 tahun tak pulang bertemu keluarga ku akhirnya dengan ijin Tuhan moment hari raya lebaran ini ku manfaatkan untuk melihat keadaan kedua orangtua ku dan adik semata wayangku
Awal melihat kedua orangtuaku saat tiba di bandara halim rasa sedih itu sebenarnya tak terbendung lagi dalam hati ketika melihat begitu banyaknya guratan di kedua wajah mereka, terlebih papa yang tahun ini telah memasuki umur 71 tahun terlihat begitu kurus dan mulai membungkuk namun di usia seperti itu beliau masih harus tetap mengendarai mobil dengan jarak yg jauh2 bahkan jika perlu sampai tengah malam. Dari agensi satu ke agensi yg lain ,berbicara dari satu artis ke artis lainnya yg punya power di Indonesia (i**ra les****, g**nn fr**dly) hanya demi masa depan si bungsu yang ia sendiri tidak pernah mengusahannya atau setidaknya memikirkannya meski usianya kini sudah berkepala 3+. Masih nyaman dengan status dia sebagai anak bungsu yg dimanjakan dan di proteksi sejak masa kecil. Tidur setiap hari pukul 3 dini hari bangun pukul 12 siang, tidak pernah makan di rumah hanya mau makan di luar, minum kopi, coke, makan KFC, dan semua kebiasaan buruk si bungsu di tolerir habis oleh mereka tanpa pencegahan sama sekali.
( Setting berpindah saat Memasuki rumah )
Tidak ada yg berubah dari ukuran, letak sofa dan furniture. Di bagian dapur atap plafon sudah beberapa bagian yg lapuk karena selalu kena air hujan dan bocor dimana-mana
Bukan hanya itu, warna dinding rumah menjadi jauh lebih "kreatif", meninggalkan jejak "kekesalan tanpa alasan" dari si bungsu yang when he upset he throw the coffee to draw the wall...
Namun yg jauh lebih membuat nyesek adalah melihat kedua orangtua ku tak bisa menikmati tinggal di rumah mereka sendiri...mereka makan di dalam kamar karna kehadiran mereka mengusik si bungsu. Bukan hanya itu jika si bungsu ingin sesuatu tanpa kata "tolong" dengan sigap kedua orangtua yg hanya ingin anaknya bahagia memenuhi semua itu meski itu sudah larut malam.
Dahulu ketika melihat semua keadaan ini aku memilih untuk berkonfrontasi dengan si bungsu non fisik (makian) atau secara fisik ,namun setelah aku tak bersama mereka si bungsu melampiaskan kemarahan kepada orangtua kami.
Maka kali ini aku hanya diam ... dan melihat apa yang ia lakukan pada mereka dan menumpahkan amarahku hanya dalam doa.
kesedihan ini
amarah ini
kebingungan ini
hanya aku yang memahaminya.
sampai kapan ini berkelanjutan?
kapan si bungsu akan bertobat dan sadar?
apakah setelah maut menjemput kedua orangtua kami?