31 August 2012

See you again ( Last day in BaLi )



Day 05 (21 Agustus 2012)
Meski hanya 5 hari di kota seniman ini namun mungkin inilah pertama kalinya liburanku yg paling berkesan (bukan hanya karna bagian betis dan pahaku yg semakin terbentuk di hari pertama dan ketiga itu :-), tetapi liburan yg meninggalkan kesan mendalam adalah bukan sekedar jalan-jalan dan makan enak tetapi ketika bisa melakukan hal yg baik bagi orang lain pula.

Maka malam terakhir ini kami tidak kemana-mana hanya ke sebuah kedai dekat rumah yang ternyata bisa sedikit mengobati rasa kangen akan kuliner kota makassar. Dan ternyata "chef" nya pun di datangkan langsung dari sana.

Tanpa bermaksud mempromosikan kuliner kota kelahiran sendiri ,tapi memang di kedai itu setiap malam slalu ramai dengan pengunjung. Jajanan khas dari Makassar seperti Jalangkote (kue pastel goreng) , pisang goreng sambal nya, ubi goreng, mie kering titi, nasi goreng merah dan yg menjadi "bintang" di kedai itu (sayup2 terdengar pukulan perkusi dan teriakan histeris menyambut inilaaaah "si daeng " Sarrabaa...♡ hahaha lebay) minuman khas Makassar itu cukup menghipnoptis pengunjung tuk mau datang setiap malam di warung itu. Haaah sedih juga mau tinggalkan kota ini..setelah 20 tahun entah kapan lagi bisa kembali ke sini

Lamunanku terhenti ketika dihadapanku, Gek Vie dan Gek Tika telah tersaji 3 gelas Sarraba hangat bersama pisang goreng sambal dan ubi goreng. Maka....Mari makan...♥

my worthed BaliDay (Day 04)

Day 04 ( 20 Agustus 2012)

Hari ini para Gek ingin ke tempat liburan yg lain, masih di daerah Badung. Setelah beres-beres rumah maka tepat pukul 2 siang kami (seperti biasanya dengan gaya backpacker dan motorcycle) kami menuju ke pemandian air terjun nungnung di Badung. Membawa perlengkpan dan bekal serta para "bocah" berekor kesayangan para gek yg juga dibawa serta. Meski perjalanan menuju pemandian itu gak singkat (butuh 3 jam) perjalanan dengan motor, tapi para bocah tdk mengeluh malah mereka terlihat sangat menikmati perjalanan mereka dgn motor.
akhirnya setelah merasakan serunya perjalanan selama 3 jam akhirnya tibalah kami di pemandian air terjun Nungnung. Setelah membayar karcis masuk Rp.15 ribu/org kami pun menuju ke tempat tersebut,tapi tak dinyana untuk menikmati keindahan air terjun tetsebut 3 jam di motor tidaklah cukup. Di depan masih ada sekitar 500 anak tangga yg terbuat dari batu alam yang curam yang masih harus di lalui , terlebih di sekitarnya itu terdapat jurang. spontan rombongan "geng motor" teriak "aaaaaaarrrrggghhhhhhhh !!!"

kecuali para "bocah" yang begitu bersemangatnya berlarian menyusuri ratusan anak tangga tersebut dan mereka2 lah yg menyemangati kami dari kejauhan dgn lolongan mereka. Semangat yg menggebu-gebu awalnya seketika menjadi padam karna "medan" nya. (kecuali si Reina yg tetep eksis bila sesion foto2 :
dan setelah menempuh ratusan anak tangga yg di iringi dengan sebuah lagu "separuh napas" tibalah kami ke tempat tersebut. Dan pemandangan air terjun Nungnung yg memang indah itu melenyapkan keletihan plus plus (plus rasa lapar, rasa dongkol,ngos-ngos an). Sepertinya semua diakhiri dengan sebuah kalimat "sengsara membawa nikmat" ♡

29 August 2012

my wothed BaLiDay (Day 03)

Day 03 (19 Agustus 2012)

Hari pertama Idul Fitri di Bali tidaklah seramai seperti di Makassar. Namun di sebuah sudut jalan yg berdekatan dengan tempat tinggal gek Vie terdapat sebuah tempat yg terlihat seperti sebuah balai pertemuan yg cukup ramai dengan banyaknya saudara2 muslim yg mengikuti shalat id disana..
Hari ini kami berencana akan ke pasar sukowati tuk mencari souvenirs khas Bali tuk oleh-oleh.  Bersama dengan rombongan "geng motor" akhirnya kami berdelapan menuju ke pasar sukowati. Setelah menemukan apa yg dicari tiba2 gek Tika nyeletuk "yuk beli baju yg sama dan berfoto di Mangrove Forest di Badung yuk? "
Awalnya ku pikir hutan bakau di pakai sebagai tempat tuk foto-foto apa bagusnya pasti tidak asik, banyak rawa,tetapi ternyata setelah tiba di tempatnya dugaan ku sejak bebeeapa jam sebelumnya tak beralasan sama sekali. Dan baru tahu juga kalau tempat ini menjadi salah satu tempat tujuan bagi mereka yg ingin melakukan pengambilan foto pra wedding. Dan para model dari Tukad Banyusari pun beraksi..hahaha

my worthed BaLiDay (Day 02)

Day 02 (18 Agustus 2012)

Setelah mengikuti perjalanan ke Kintamani dan berhasilnya diriku tuk membuktikan bahwa ternyata aku bisaaa menempuh perjalanan ekstrim yg pertama kalinya bagiku dengan memakai sepatu fantovel ber-heel dengan jalanan berliku, menikuk, sangat sesuai lah tuk yg ingin memperbesar betis spertiku ^_^ , tiba hari kedua perjalanan liburanku yg kali ini sedikit lebih "ringan".. kami menuju ke sebuah tempat yg menurut kawanku tempat itu slalu dipadati pengunjung yg ingin merasakan nikmatnya ikan gurame segar yg terkenal dengan bumbu Bali nya..dan memang saat kami tiba ke Resto Apung (begitulah tempat itu dinamakan) terlihat sangat banyak pengunjung bahkan kami yg telah 1 jam menunggu tuk dilayani (setidaknya tuk melihat menunya saja) akhirnya lebih memilih pulang tanpa mencicipi menu yg terkenal itu. Yaah setidaknya kami tdk pulang dgn tangan hampa masih ada bentuk kenangan lain yg bisa dibawa pulang dari Resto Apung.

21 August 2012

my worthed BaliDay (Day 01)

Akhirnya saat yg ku nantikan sejak februari lalu datang jua..
gak pernah menyangka bisa kembali ke kota ini lagi setelah kedatangan ku 20 tahun lalu. Pertemuan dengan sahabat Bali ku sejak SD (dekatnya baru SMA) "mengubahkan" 6 hari liburanku di kota seniman ini.
geg jegeg* mengajak aku "berpetualang" ala backpaker plus motocycle.

Diawali ketika geg jegeg menjemputku di airport dengan motocycle dgn scarf ungu jumbai2nya dan perjalanan yang kurang lebih 1 jam menuju ke rumahnya, akhirnya setelah pukul 11 malam sampailah kami di rumah geg jegeg yg besar dan luas itu. 

esok paginya (17-08-2012) aku diajaknya ke komunitas dia yg peduli ama kehidupan anak2 alam yg berjuang untuk mendapatkan pendidikan dan fasilitas yg jauh lebih layak.
Perkunjungan ke tempat anak2 alam Kintamani adalah "petualangan ku yang pertama di kotaseniman ini.

Perjalanan menuju ke tempat itu di luar dugaan ku sama sekali. Medan jangkauan yg sulit dan hanya bisa ditempuh dengan kendaraan ekstrime sebab jalanan yg menanjak dan licin (maklumlah daerah pegunungan yg curam dan terjal). Moment 17 agustus yg tak pernah bisa terlupakan deh buatku spertinya. Mengikuti upacara penaikan bendera dgn cara anak alam sungguh hal yg unik buatku. Perjumpaanku yg excited dengan seorang putra daerah setempat yg ternyata memperlihatkan bahwa masih ada orang yg punya kepedulian untuk anak2 kotanya yg mungkin saja tak "terjangkau" oleh dunia luar dikarenakan kurangnya media informasi yg menyatakan bahwa fenomena "ketimpangan sosial" seperti ini pun masih ada dan nyata terjadi di kota yg terlihat jauh dari potret "ketidakberuntungan" ini.