Entah mengapa hari ini ada
kerinduan yang benar-benar membuncah dalam dadaku ketika kurasakan hangat sinar
mentari pagi membelai wajah pucat pasiku lewat jeruji jeruji jendela dalam
kamarku. Kerinduan untuk mendekap hangatnya sinar pagi, lewat jari jemari
kakiku, merasakan gelitik rumput jepang yang rimbun teratur dan basah setelah
hujan yang mengguyur deras semalam... Akh.. kupandangi sekelilingku masih sama
seperti beberapa minggu lalu atau beberapa bulan lalu, entahlah... tak ada yang
berubah.
Dinding kamar yang masih berwarna sama, putih pucat seperti kulitku, dengan
tirai yang hampir sama pula warnanya. Buket bunga yang indah dan Balon
warna-warni bertuliskan ” Cepat Sembuh.., Kami Mencintaimu Kiran..” dari mama,
papa, Bang Hadi,sahabat-sahabat terdekatku, bos dan rekan-rekan di kantorku
yang entah berapa jumlahnya berjejer dan tersusun rapih di atas meja dan di
sekeliling tempat tidurku.
Yang membedakan hanya lenganku yang kini sudah dapat ”bernapas” dengan leganya,
hanya sesekali hatiku miris ketika harus melihat kenangan yang ditorehkan
disana, lebam biru di sejukur lenganku karena tusukan jarum infus yang kini
hanya meninggalkan bekasnya dan sesekali membuatku menitikkan airmata, bukan
karena bekasnya yang rasa-rasanya tak mungkin dihilangkan, namun karena aku tak
menyangka dapat merasakan kembali yang kurang lebih 363 hari 53 minggu aku
hanya dapat ”melihat” dan mendengarkannya lewat setiap sayup sayup bisikan
lembut orang-orang yang memperdengarkannya di telingaku..
Lantunan doa yang lembut dari papa, mama setiap pagi, siang dan malam lewat
kidung Mazmur Daud No. 23 selalu menjadi penghantar dalam tidurku yang
panjang..
Terlebih bang Hadi, pria yang sudah 2 tahun ini menjadi penyemangat hidupku.
Dia seperti malaikat yang diutus Tuhan untukku. Setia menemaniku bahkan
menemani papa dan mama saat ku tertidur dengan pulasnya selama berbulan-bulan.
Dia lah yang setiap saat menemaniku berbicara saat papa dan mama sudah tak
mampu lagi melihat keadaanku..
Dari bang Hadi lah, aku mengetahui bahwa pemberian berbagai macam buket bunga
dan balon warna-warni dari siapa saja yang membawakannya untukku. Belum lagi
gosip-gosip terbaru di sekitarnya yang menggelitik alam bawah sadarku saat ku
tertidur dengan begitu detailnya sehingga ku merasa telah menyentuh dan melihat
semua kejadian-kejadian itu.
Pertemuanku dengan bang Hadi terbilang unik. Kami seakan dipertemukan oleh
takdir yang akhirnya membawa kami melintasi waktu dan tempat. Kami dipertemukan
oleh waktu saat bang Hadi telah menyelesaikan program Master Mechanical
Engineering nya di University of Minnesota , Amerika. Bang Hadi yang usianya 5
tahun diatasku dinilai oleh orang tuaku sebagai pria yg dewasa dan
bertanggungjawab. Terlebih bang Hadi kuanggap sebagai pengganti bang Kenan yang
telah pergi mendahului kami ke Surga karena kecelakaan lalu lintas 5 tahun
lalu.
Bang Kenan sangat berarti untukku. Dia satu-satunya kakak terbaikku. Penyayang,
Cerdas, dan Tampan, meski sering usil dan ngerjain aku namun dia slalu
ada disaat aku butuhkan. Ia adalah kebanggaan papa dan keluarga, penerus
generasi dari garis keturunan papa yang kebanyakan berprofesi sebagai dokter.
Akulah yang tidak mengikuti jejak papa untuk menjadi dokter sebab aku merasa
terpanggil sebagai seorang Accounting Public. Bang Kenan pergi disaat semuanya
nyaris sempurna. Setahun lagi menyelesaikan program spesialisasi dalam bidang
Neurologi dan berencana untuk mempersunting mbak Lira kekasih yang telah 3
tahun mendampinginya ke pelaminan setelah ia mendapatkan gelarnya itu.
Kehilangan bang Kenan membuatku kehilangan semangat untuk hidup. Dan disaat itu
bang Hadi datang dengan kemiripan sifat dan fisik yang kesemuanya mendekati
bang Kenan. Mama seperti mendapatkan kembali putranya yang hilang.
Akh...rasanya sudah sangat lama sejak aku tertidur...aku pun tak pernah tahu
apa yang membuatku tertidur begitu lamanya...
Hal terakhir yang kuingat adalah saat itu aku diantar pulang oleh bang Hadi
sebab keluarganya mengajakku untuk makan malam bersama dan setelah berpamitan
kepapa dan mamaku bang Hadi kemudian mengecup keningku, tak berapa lama saat
bang Hadi menuju keluar rumah tiba-tiba sekelilingku menjadi gelap dan saat itu
yang kudengar hanya teriakan mama dan setelah itu aku tak sadarkan diri lagi
untuk waktu yang cukup lama.
Sayup-sayup masih kudengar pernyataan dokter Rama yang memberitahukan papa dan
bang Hadi kalau aku menderita Hipoksia atau luka neurologis yang disebabkan
karena kekurangan kadar oksigen dalam otak. Dokter Rama adalah sahabat papa
yang juga telah dipercaya sebagai dokter keluarga kami. Beliaulah yang selama
20 tahun yang selalu menangani setiap keluhan medis dalam keluarga kami.
Tuhan...ku tak tahu berapa musim telah kulewati, berapa perayaan penting tak
kualami, hari ultahku,ultah papa-mamaku,hari valentine,bahkan kesyahduan dan
sukacita natal yang kesemuanya kulalui hanya di kamarku ini. Namun,dalam
ketenangan aku dapat merasakan apa yg mereka rasakan saat mereka melihatku,
terbujur kaku setengah mayat namun membuat seakan-akan aku ”ada” di tengah2
mereka.
Masih kuingat saat ultahku bagaimana mama-papa dan bang Hadi merayakannya
seakan aku benar-benar ada bersama mereka, memakaikanku topi ultah,membelikanku
kue tart dan balon-balon serta mengundang beberapa rekan-rekan terdekat, mereka
kemudian menyanyikan lagu panjang umur dan selamat ulang tahun padaku,dan
menghadiahkanku ciuman di pipi. Saat itu aku dapat merasakan kekuatan cinta
mereka padaku. Begitupun saat natal tiba, sama sekali tak pernah mereka
menyangkali ”kehadiranku”, meski tetangga bahkan keluarga terdekat kami
menganggap apa yang dilakukan oleh papa-mama sebagai hal yang diluar batas
kewajaran dan kewarasan. Mereka, bang Hadi, mbak Lira
Dan..kini setelah berbulan-bulan ku tertidur dengan begitu pulasnya, saatnya
aku ingin segera berlari dan memeluk papa dan mama, mbak Lira dan juga begitu
rindunya aku pada bang Hadi, kekasih hatiku yang begitu kubanggakan, ingin
kupandangi dengan lekat wajahnya yang tampan itu dan ingin kusampaikan betapa
aku mencintainya dan berterimakasih atas semua perhatian dan cinta yang ia
berikan padaku selama ini.
Maka kutelusuri setiap lorong ruang dalam rumah yang sangat kucintai ini dan
sayup-sayup ku dengar isakan mama dari ruang tamu...itu berasal dari lantai
dasar hingga sebuah suara yang tidak asing lagi kudengar dan yang sangat
kurindukan pemiliknya sedang berbicara pada mama dan papa. Yaa..!! itu suara
bang Hadi...!! suara kekasihku yang setia menemaniku saat komaku...bercerita
banyak hal di telingaku sehingga meski ku tertidur dengan pulasnya selama
berbulan-bulan, aku masih mengenal keadaan disekitarku...
Oh Tuhan...saat ku melihat ke bawah, disana ada papa,mama, mbak Lira dan tentu
saja bang Hadi, kekasihku...aku lalu berlari ingin segera menuruni setiap anak
tangga itu namun, mengapa mama dan papa terisak? Ada apa sebenarnya ini?
”om dan tante... keputusan ini saya dan Lira ambil setelah kami bersama
menggumulkannya dalam doa. Masa-masa sulit Kenan dan Kirana dahulu ternyata
lewat kejadian itu Tuhan mendekatkan kami berdua. Percayalah om dan tante tidak
akan pernah kehilangan cinta kami berdua. Om dan tante sudah seperti orang tua
kami sendiri, dan kami sudah menjadi bagian dari keluarga ini, baik lima tahun
lalu maupun saat ini. Kami berdua kemari ingin meminta doa dan restu dari om
dan tante untuk pernikahan ini”
apa yang sedang mereka bicarakan..? Masa sulit? Pernikahan? Siapa yang akan
menikah?! Lima tahun lalu?! aku koma hanya setahun yg lalu kok.. ! Loh kok itu
bang Hadi dan mbak Lira berlutut di depan mama dan papa?
Eh mereka pakai nangis lagi...ada apa ini..! aku harus memberikan mereka
kejutan nih..
dan akhirnya..saat ini aku sudah berada di samping papa dan mama dan melihat
mereka memeluk bang Hadi dan mbak Lira..aku akan mengejutkan mereka dengan
perlahan.
papa.., mama.., bang Hadi.. ,mbak Lira.. ini Kiran..,
Tuhan...Mengapa suaraku tidak bisa mereka dengar, mereka tidak bisa melihatku
ada didekat mereka..!!
ada apa ini ? Mengapa mereka hanya menangis dan berpelukan ?
Ini Kiran.., ma...!!,pa..!!,bang Hadi..!!, mbak Lira..!!,Kirana ada disini.. di
dekat kalian..
Kirana kangeen...!!
(INI CERPEN /FLASH FICTION PERTAMA KU. BASED ON TRUE STORY KETIKA CINTA ITU AKHIRNYA DGN YG LAIN DI 2011 AKU MENEMUKANNYA DALAM BUKU TUA MASIH SECARIK KERTAS DENGAN BEKAS TETESAN AIR MATA)