11 December 2014

NYANYIAN SUNYI KIRANA (Cerpen atau Flash Fiction??)



Entah mengapa hari ini ada kerinduan yang benar-benar membuncah dalam dadaku ketika kurasakan hangat sinar mentari pagi membelai wajah pucat pasiku lewat jeruji jeruji jendela dalam kamarku. Kerinduan untuk mendekap hangatnya sinar pagi, lewat jari jemari kakiku, merasakan gelitik rumput jepang yang rimbun teratur dan basah setelah hujan yang mengguyur deras semalam... Akh.. kupandangi sekelilingku masih sama seperti beberapa minggu lalu atau beberapa bulan lalu, entahlah... tak ada yang berubah.

Dinding kamar yang masih berwarna sama, putih pucat seperti kulitku, dengan tirai yang hampir sama pula warnanya. Buket bunga yang indah dan Balon warna-warni bertuliskan ” Cepat Sembuh.., Kami Mencintaimu Kiran..” dari mama, papa, Bang Hadi,sahabat-sahabat terdekatku, bos dan rekan-rekan di kantorku yang entah berapa jumlahnya berjejer dan tersusun rapih di atas meja dan di sekeliling tempat tidurku.

Yang membedakan hanya lenganku yang kini sudah dapat ”bernapas” dengan leganya, hanya sesekali hatiku miris ketika harus melihat kenangan yang ditorehkan disana, lebam biru di sejukur lenganku karena tusukan jarum infus yang kini hanya meninggalkan bekasnya dan sesekali membuatku menitikkan airmata, bukan karena bekasnya yang rasa-rasanya tak mungkin dihilangkan, namun karena aku tak menyangka dapat merasakan kembali yang kurang lebih 363 hari 53 minggu aku hanya dapat ”melihat” dan mendengarkannya lewat setiap sayup sayup bisikan lembut orang-orang yang memperdengarkannya di telingaku..

Lantunan doa yang lembut dari papa, mama setiap pagi, siang dan malam lewat kidung Mazmur Daud No. 23 selalu menjadi penghantar dalam tidurku yang panjang..

Terlebih bang Hadi, pria yang sudah 2 tahun ini menjadi penyemangat hidupku. Dia seperti malaikat yang diutus Tuhan untukku. Setia menemaniku bahkan menemani papa dan mama saat ku tertidur dengan pulasnya selama berbulan-bulan. Dia lah yang setiap saat menemaniku berbicara saat papa dan mama sudah tak mampu lagi melihat keadaanku..

Dari bang Hadi lah, aku mengetahui bahwa pemberian berbagai macam buket bunga dan balon warna-warni dari siapa saja yang membawakannya untukku. Belum lagi gosip-gosip terbaru di sekitarnya yang menggelitik alam bawah sadarku saat ku tertidur dengan begitu detailnya sehingga ku merasa telah menyentuh dan melihat semua kejadian-kejadian itu.

Pertemuanku dengan bang Hadi terbilang unik. Kami seakan dipertemukan oleh takdir yang akhirnya membawa kami melintasi waktu dan tempat. Kami dipertemukan oleh waktu saat bang Hadi telah menyelesaikan program Master Mechanical Engineering nya di University of Minnesota , Amerika. Bang Hadi yang usianya 5 tahun diatasku dinilai oleh orang tuaku sebagai pria yg dewasa dan bertanggungjawab. Terlebih bang Hadi kuanggap sebagai pengganti bang Kenan yang telah pergi mendahului kami ke Surga karena kecelakaan lalu lintas 5 tahun lalu.

Bang Kenan sangat berarti untukku. Dia satu-satunya kakak terbaikku. Penyayang, Cerdas, dan Tampan, meski sering usil dan ngerjain aku namun dia slalu ada disaat aku butuhkan. Ia adalah kebanggaan papa dan keluarga, penerus generasi dari garis keturunan papa yang kebanyakan berprofesi sebagai dokter.

Akulah yang tidak mengikuti jejak papa untuk menjadi dokter sebab aku merasa terpanggil sebagai seorang Accounting Public. Bang Kenan pergi disaat semuanya nyaris sempurna. Setahun lagi menyelesaikan program spesialisasi dalam bidang Neurologi dan berencana untuk mempersunting mbak Lira kekasih yang telah 3 tahun mendampinginya ke pelaminan setelah ia mendapatkan gelarnya itu. Kehilangan bang Kenan membuatku kehilangan semangat untuk hidup. Dan disaat itu bang Hadi datang dengan kemiripan sifat dan fisik yang kesemuanya mendekati bang Kenan. Mama seperti mendapatkan kembali putranya yang hilang.

Akh...rasanya sudah sangat lama sejak aku tertidur...aku pun tak pernah tahu apa yang membuatku tertidur begitu lamanya...

Hal terakhir yang kuingat adalah saat itu aku diantar pulang oleh bang Hadi sebab keluarganya mengajakku untuk makan malam bersama dan setelah berpamitan kepapa dan mamaku bang Hadi kemudian mengecup keningku, tak berapa lama saat bang Hadi menuju keluar rumah tiba-tiba sekelilingku menjadi gelap dan saat itu yang kudengar hanya teriakan mama dan setelah itu aku tak sadarkan diri lagi untuk waktu yang cukup lama.

Sayup-sayup masih kudengar pernyataan dokter Rama yang memberitahukan papa dan bang Hadi kalau aku menderita Hipoksia atau luka neurologis yang disebabkan karena kekurangan kadar oksigen dalam otak. Dokter Rama adalah sahabat papa yang juga telah dipercaya sebagai dokter keluarga kami. Beliaulah yang selama 20 tahun yang selalu menangani setiap keluhan medis dalam keluarga kami.

Tuhan...ku tak tahu berapa musim telah kulewati, berapa perayaan penting tak kualami, hari ultahku,ultah papa-mamaku,hari valentine,bahkan kesyahduan dan sukacita natal yang kesemuanya kulalui hanya di kamarku ini. Namun,dalam ketenangan aku dapat merasakan apa yg mereka rasakan saat mereka melihatku, terbujur kaku setengah mayat namun membuat seakan-akan aku ”ada” di tengah2 mereka.

Masih kuingat saat ultahku bagaimana mama-papa dan bang Hadi merayakannya seakan aku benar-benar ada bersama mereka, memakaikanku topi ultah,membelikanku kue tart dan balon-balon serta mengundang beberapa rekan-rekan terdekat, mereka kemudian menyanyikan lagu panjang umur dan selamat ulang tahun padaku,dan menghadiahkanku ciuman di pipi. Saat itu aku dapat merasakan kekuatan cinta mereka padaku. Begitupun saat natal tiba, sama sekali tak pernah mereka menyangkali ”kehadiranku”, meski tetangga bahkan keluarga terdekat kami menganggap apa yang dilakukan oleh papa-mama sebagai hal yang diluar batas kewajaran dan kewarasan. Mereka, bang Hadi, mbak Lira

Dan..kini setelah berbulan-bulan ku tertidur dengan begitu pulasnya, saatnya aku ingin segera berlari dan memeluk papa dan mama, mbak Lira dan juga begitu rindunya aku pada bang Hadi, kekasih hatiku yang begitu kubanggakan, ingin kupandangi dengan lekat wajahnya yang tampan itu dan ingin kusampaikan betapa aku mencintainya dan berterimakasih atas semua perhatian dan cinta yang ia berikan padaku selama ini.

Maka kutelusuri setiap lorong ruang dalam rumah yang sangat kucintai ini dan sayup-sayup ku dengar isakan mama dari ruang tamu...itu berasal dari lantai dasar hingga sebuah suara yang tidak asing lagi kudengar dan yang sangat kurindukan pemiliknya sedang berbicara pada mama dan papa. Yaa..!! itu suara bang Hadi...!! suara kekasihku yang setia menemaniku saat komaku...bercerita banyak hal di telingaku sehingga meski ku tertidur dengan pulasnya selama berbulan-bulan, aku masih mengenal keadaan disekitarku...

Oh Tuhan...saat ku melihat ke bawah, disana ada papa,mama, mbak Lira dan tentu saja bang Hadi, kekasihku...aku lalu berlari ingin segera menuruni setiap anak tangga itu namun, mengapa mama dan papa terisak? Ada apa sebenarnya ini?

”om dan tante... keputusan ini saya dan Lira ambil setelah kami bersama menggumulkannya dalam doa. Masa-masa sulit Kenan dan Kirana dahulu ternyata lewat kejadian itu Tuhan mendekatkan kami berdua. Percayalah om dan tante tidak akan pernah kehilangan cinta kami berdua. Om dan tante sudah seperti orang tua kami sendiri, dan kami sudah menjadi bagian dari keluarga ini, baik lima tahun lalu maupun saat ini. Kami berdua kemari ingin meminta doa dan restu dari om dan tante untuk pernikahan ini”

apa yang sedang mereka bicarakan..? Masa sulit? Pernikahan? Siapa yang akan menikah?! Lima tahun lalu?! aku koma hanya setahun yg lalu kok.. ! Loh kok itu bang Hadi dan mbak Lira berlutut di depan mama dan papa?

Eh mereka pakai nangis lagi...ada apa ini..! aku harus memberikan mereka kejutan nih..

dan akhirnya..saat ini aku sudah berada di samping papa dan mama dan melihat mereka memeluk bang Hadi dan mbak Lira..aku akan mengejutkan mereka dengan perlahan.

papa.., mama.., bang Hadi.. ,mbak Lira.. ini Kiran..,

Tuhan...Mengapa suaraku tidak bisa mereka dengar, mereka tidak bisa melihatku ada didekat mereka..!!

ada apa ini ? Mengapa mereka hanya menangis dan berpelukan ?

Ini Kiran.., ma...!!,pa..!!,bang Hadi..!!, mbak Lira..!!,Kirana ada disini.. di dekat kalian..
Kirana kangeen...!!




(INI CERPEN /FLASH FICTION PERTAMA KU. BASED ON TRUE STORY KETIKA CINTA ITU AKHIRNYA DGN YG LAIN DI 2011 AKU MENEMUKANNYA DALAM BUKU TUA MASIH SECARIK KERTAS DENGAN BEKAS TETESAN AIR MATA)

No comments: