20 August 2018

When i Sat Down and Pray at God's Feet.

Bulan ini adalah bulan bersejarah bagi bangsaku...

Ada beberapa peristiwa yang sangat penting di bulan Agustus di tahun 2018 ini :

1. Hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang dirayakan setiap tanggal 17 Agustus 

2. Moment Asian Games Indonesia yang dilakukan di dua kota yaitu di Jakarta dan Palembang (ini adalah yang kedua kalinya diselenggarakan di Indonesia setelah tahun 1962) Woow 56 tahun yang lalu

3. Gempa yang terjadi di kota Lombok sejak 29 Juli hingga 19 Agustus kemarin dengan kekuatan gempa 6,0-7,0 SR tak berpotensi Tsunami dan sudah memakan korban sebanyak 548 jiwa

dan di bulan ini pula aku melaksanakan nazar yang sudah ku ucapkan kepada Tuhan sejak 2 bulan lalu (bulan Juni 2018) bahwa sejak tanggal 16 Agustus malam aku akan merendahkan diriku seperti Ratu Esther dalam cerita Bible dan akan menyelesaikannya tepat tanggal 19 malam...

banyak hal yang tak bisa kuselesaikan dengan kekuatanku sendiri...aku butuh Tuhan dan kekuatanNya...aku rasa bertindak seperti Ratu Esther adalah pilihan terbaik...saat aku ingin benar-benar mengalami apa itu Freedom/Kemerdekaan yang sesungguhnya dari ikatan yang selama bertahun-tahun mengikatku dan juga saat aku tak mampu mengambil keputusan untuk menjalani hidupku di masa-masa yang akan datang...aku sangat butuh Tuhan dan kekuatanNya...

saat aku didesak untuk melepaskan apa yang sangat sulit untuk kulepaskan,

saat aku harus memaksa diriku untuk bersyukur dan menerima apa yang tak akan pernah bisa kumiliki,

saat aku benar-benar berhasrat untuk melepaskan diriku dari kebiasaanku yang salah selama ini karena kompensasi dari rasa kesepian dan kesedihan yang selalu melandaku setiap malam sehingga untuk melepaskannya aku sering kali harus meminum obat tidur untuk bisa tidur dengan nyenyak supaya tak ada kompensasi lain yang kulakukan yang akhirnya membuatku semakin terpuruk...jiwaku sedang sangat sakit....dan tak seorang pun yang tahu ....aku menanggungnya sendirian....batasan antara kenyataan dan khayalan berganti-gantian tiap malam yang menjadi sebuah battle dalam diriku...dan keesokan pagi aku mengenakan topeng kepalsuan sebab aku tak mau orang lain tahu keadaanku yang menyedihkan , masalah pribadiku bukan untuk konsumsi publik , menjalani rutinitas sedangkan pada kenyataannya jiwaku masih sakit...

saat merendahkan diri aku benar2 seperti memposisikan diriku seperti ratu esther yang saat itu ketika harus menghadap raja ahasyweros hidup dan mati taruhannya...
aku tak minta apa-apa saat itu, yang aku ingin adalah aku jangan ditinggalkan oleh Rajaku meski nanti satu per satu orang-orang penting dalam kehidupanku akan pergi dariku untuk selama-lamanya.. bersyukur untuk keadaanku, berdamai dengan diriku sendiri, menerima kenyataan yang ada dan bersyukur untuk apa yang tidak akan pernah kumiliki....bersama pria yang sangat kucintai dan hanya memberikannya kepada jiwa-jiwa yang membutuhkan...cinta yang akan kusimpan untuk diriku sendiri dan akan kuberikan kepada jiwa-jiwa yang membutuhkannya yaitu Generasi