Jakarta Kelelep Aer Ujan ....
Hampir dua pekan isi berita membicarakan tentang ibukota yang tergenang banjir...
Sepertinya biasa ajah deh dengar Jakarta "langganan" banjir tapi kalau banjir sampai semuanya di babat gak kenal perumahan woow atau gak woow sepertinya baru kali ini deh yang terparah , meski katanya banjir Jakarta tuh sudah ada sejak permulaan abad ke -19 (wheew..)
Permulaan tahun 2013 yang dibuka dengan maraknya pesta kembang api serasa semua gegap gempitanya tertelan bersamaan dengan air keruh kecoklatan yang tingginya rata-rata 1.50 meter yang entah dari mana asal muasalnya menggenangi pemukiman warga Jakarta.
Bahkan untuk Monas dan Bundaran HI yang menjadi icon kebanggaan ibukota pun gak luput dari "tradisi" yang katanya 6 tahunan ini pasti terjadi (hahaha seperti pemilu aja ada periodenya)
Kukatakan bahwa banjir yang terjadi di Jakarta ini seperti dua gambaran yang saling bertentangan antara bencana Alam yang Alami VS bencana Alam Buatan... bencana alam yang alami diluar jangkauan manusia yang tak seorang pun dapat memprediksinya , hanya keMaha Kuasaan Tuhan lah yang melakukannya..
namun bagaimana kalau bencana banjir Jakarta ini dipengaruhi lebih banyak oleh karena bencana alam buatan manusia sendiri sehingga menjadikan ini sebagai sesuatu yang "lumrah" terjadi setiap 6 tahun sekali???
Rendahnya kesadaran untuk menjaga lingkungan dengan tertib membuang sampah pada tempatnya (dan bukan di sungai/di kali yang memicu penyumbatan) menjadi salah satu cikal bakal masalah yang awalnya dipandang "sebelah mata" atau "disederhanakan".... maka benarlah jika ada sebuah hukum kausalitas yakni takkan ada asap jika tak ada api atau yang kusederhanakan dengan bercemin dari kisah "Jakarta Darurat" kali ini bahwa tak akan ada banjir jika tak ada sampah (yang dibuang sembarangan ) :-)
Monas dan Bundaran HI Jakarta terlihat begitu kontrasnya dengan warna air banjir yang menggenanginya (insert : gambar)


No comments:
Post a Comment