12 May 2015

Semua Atas Seijin-MU




Setelah membantu Vito (salah seorang anak sekolah minggu ku) mengerjakan PR Agamanya lewat Whatsapp sebanyak 15 Nomor beberapa saat tadi, entah mengapa pikiran ku kembali melayang kepada perkataan teguran salah seorang adik remaja gereja yang tadi menegur setiap kekurangan ku saat memimpin acara Pernikahan Perak Bapak dan Ibu Rohani kami sore hingga malam tadi di gereja.

Meski kritikan pedasnya ini sudah seringkali ku dengar dan setidaknya ini jauh lebih “ringan”  daripada saat ia menolak keras rencana ku untuk memilih seorang pria untuk mau masuk dalam hidupku yang dinilainya hanya akan membuat ku menderita untuk masa depan ku dengan bermacam-macam  ritual adat istiadat yang masih mengikat dan  beberapa hal yang lain yang ia tak setuju dari pria itu (sebab keluarganya pun butuh waktu dan pergumulan untuk lepas dari ikatan adat).

dia sangat tahu prinsip hidup aku yang juga awalnya tak akan pernah mau hidup dalam ikatan adat istiadat dan ketidak jelasan. Untuk beberapa bulan hubungan ku dengan  gadis yang sudah kuanggap adik kandung ku sendiri dan ia pun menyayangiku seperti kakak sendiri itu menjadi sangat renggang bahkan saat itu bagiku masuk masa kritis.

Aku tahu ia menyayangi ku dengan cara sangat unik meski menyakitkan dan aku tahu ia punya harapan besar agar aku bisa menjadi percontohan dari semua gadis2 gereja yang mungkin bagi dia sudah banyak yang “berjatuhan” dan memilih menyerah dengan keadaan. Sehingga ketika aku menyampaikan rencana ku kepada dia untuk memilih seseorang yang kurang tepat menurut ukuran dia itu membuat dia kecewa, marah, dan sedih. Terlebih saat itu aku seperti membela pria itu dan tetap keras dengan pilihanku dan karena itulah  hubungan ku dengan gadis itu yang awalnya seperti keluarga seketika berubah menjadi seperti orang asing .  Sedih banget rasanya..

Mengingat dia sangat keras pendirian, maka aku lah yang memulai untuk meminta maaf, meski secara logika itu salah ,namun aku mau belajar menjadi hamba seperti yang Tuhan mau.

Teringat kisah seorang yang fenomenal dari dunia perAlkitabian bernama Daud, yang hidupnya sangat berkenan di hadapan Allah karena kerendahan hatinya.

Dalam kisahnya di 2 Samuel 16 :5-14 ketika Simei seorang dari kaum keluarga Saul, yakni raja yang selalu ingin membunuh Daud datang dengan penuh kemarahan dan mengeluarkan perkataan kutuk yang buruk dan menyakitkan kepada Daud disini aku bisa mengambil sebuah pelajaran tentang karakter hati hamba seorang Daud yang meskipun berkali-kali Tuhan katakan ia seorang yang ada dalam hati Tuhan namun tak pernah meninggikan dirinya di hadapan manusia bahkan kepada seorang Simei yang tidak ada apa-apanya di mata manusia manapun.

Salah satu bentuk respon hati Daud saat mendengar kata-kata yang menyakitkan dari Simei adalah bentuk dari karakter seorang pemimpin yang bisa memimpin emosinya sekaligus memposisikan hatinya sebagai seorang Hamba Tuhan. Bahkan ketika Daud akan dibela oleh orang-orang yang mendukung dia sepenuhnya , ia tetap tahu bahwa yang
akan membelanya hanyalah Tuhan dan merendahkan dirinya dengan percaya bahwa sekalipun perkataan yang buruk atau apapun yang buruk yang ia alami itu semua ATAS KEHENDAK DAN IJIN TUHAN.

Daud saja seorang raja yang berkenan di hati Tuhan rela merendahkan dirinya mengapa aku tidak ?


Tuhanlah yang menaruh perkataan dalam mulut saudariku itu dan aku bersyukur dan percaya suatau hari jika aku dipercayakan Tuhan sebagai seorang worship leader ibadah besar maka Tuhanlah yang sudah memimpin ku dan mengajarkanku untuk membawakan ibadah yang hidup dan bukan seperti dipemakaman dan yang bertele-tele ucapannya hingga terkesan membuang-buang waktu.

Yaa aku Percaya..



No comments: