28 July 2015

MENUTUP JULI MENUTUP HATI




Saat  “mengunjungi” salah satu akun FB seorang teman kantor (yang sama statusnya dengan ku sebagai karyawati kontrakan) yang kini sudah sangat berbahagia dengan status nyonya dari seorang pebisnis besar di kota Medan dan sekarang tengah menanti kelahiran bayi pertama dia di usia 37 tahun…seakan ingin membuktikan kepada semua orang yang pernah mencibir dirinya dengan label negative di masa lalu yang melekat padanya dari beberapa istri pejabat /pegawai di kantor. Dulu ia dicibir orang tapi sekarang dia dihormati. Sungguh suatu bukti yang bisa menjadi percontohan bagi kalangan anak muda dan juga orang tua yang menginginkan hal serupa terjadi pada putri mereka.

Menunggu yang Terbaik dari Tuhan …terdengar benar-benar sangat rohani.. namun jika di telusuri maknanya, kata menunggu yang terbaik itu lebih berkenaan dengan hal-hal fisik/jasmani semata, yang mengangkat derajat di mata manusia sebab yang terbaik yang dari Tuhan pasti yang mendekati Sempurna seperti kisah dalam kitab suci. Seorang yang terpandang, Bependidikan, Tidak pernah cemar, dan tentu saja rohani…seperti tidak seimbang dan tidak sepadan jika seorang gadis cantik, memiliki track record “anak baik-baik”, dan berpendidikan mendapatkan pasangan yang tak sesuai dan pernah memiliki “masa lalu” meski ia memiliki attitude yang baik dan cinta yang tulus, dan sudah dalam pertobatan yang sungguh.
Tapi sangat berbeda penilaian nya jika seorang gadis di masa lalunya memiliki track record sebagai “simpanan pejabat” terlepas dari ukuran fisik nya namun mendapatkan pria yang kaya raya, terpandang, belum pernah menikah, dan …rohani.

Menunggu yang Terbaik dari Tuhan itu sebenarnya seperti apa ? Tidak perduli cinta atau tidak yang penting bibit bebet bobot sesuai standard dan bisa mengangkat derajat di depan mata semua orang itu sudah ukuran sebagai yang “menunggu Yang Terbaik dari Tuhan” sehingga dengan bangga bisa katakan tidak sia-sia penantian ku selama ini….apa itu yang dikatakan menunggu yang terbaik dari Tuhan ?



Mungkin hanya Tuhan yang dapat mengerti perasaan ku saat ini ...
perasaan yang kembali hadir dalam hatiku yang aku bisa rasakan sama ketika aku melukai jari ku dengan pisau...perih sekali dan sakit...bahkan banyak nya air mata dan obat betadine tak akan mampu mengeringkan luka itu.


Jika dulu aku butuh waktu pemulihan selama 3 tahun untuk bisa melangkah maju dan mulai mengijinkan rasa cinta bertumbuh kembali di hatiku akan seorang lawan jenis...maka entah saat ini aku butuh waktu berapa lama lagi...sepertinya akan sangat lama untuk aku bisa membuka hati lagi kepada seorang pria lagi . Waktu dengan begitu egoisnya berlalu tanpa menunggu ku untuk benar-benar pulih sementara semuanya tak lagi sama seperti beberapa tahun yang lalu.


Semuanya berakhir sama... dengan kesimpulan yang sama dari dua pria yang pernah menjalin hubungan kasih dengan ku AKU SEORANG WANITA YANG TAK BISA MEMPERJUANGKAN KEBAHAGIAAN NYA DAN LEBIH MEMILIH UNTUK DI KUASAI OLEH PENDAPAT DAN PERKATAAN ORANG LAIN meski itu dari orang tua ku sendiri.



Semua meninggalkan ku dengan jejak kenangan yang mereka berikan untuk ku tanpa bisa aku menghapusnya, sedangkan mereka telah mempunyai kehidupan mereka sendiri bersama dengan orang lain (dirimu mungkin suatu hari nanti akan sama dengan dirinya). Terkadang aku berpikir dosa apa yang keluarga ku sebabkan atau dosa apa yang harus keluarga ku pikul sehingga jalan hidup kami dan juga diriku seperti ini? Penuh dengan airmata, perendahan, dan gunjingan orang-orang.. dan seakan-akan aku lah yang harus “memutihkan’ semua nya. Di pundak ku terletak harapan mereka yang tanpa mereka sadari itu membebani ku..dahulu mereka harapkan aku mempunyai karier yang cemerlang dan berakhir dengan kekecewaan mendapati bahwa aku adalah karyawati kontrak selama sudah 7 tahun tanpa ada kejelasan akan diangkat menjadi karyawati tetap. Dan sekarang tumpuan harapan mereka adalah agar aku menikah dengan seseorang yang dapat membuat mereka bisa mengangkat kepala mereka yang selama ini tertunduk karena gunjingan di sekitarnya dan karena mereka begitu membanggakan aku...



aku yang sedari dulu tak bisa menentukan pilihan ku sendiri baik itu pilihan ku akan pasangan hidupku sendiri atau memilih untuk kembali mengajar komsel di gereja karena larangan ibu kandungku.
dan sekarang aku berada di tengah-tengah.. antara orangtua ku dan pria yang aku kasihi saat ini. Antara pendapat orang-orang yang mempunyai prinsip yang dahulu juga kupegang mati-matian yaitu “menunggu Waktu Tuhan” atau berpegang pada suara hatiku.



Akhir-akhir ini aku merasa bahwa aku menjadi orang yang melakukan atraksi seorang diri diatas panggung yang besar sebagai one man show dengan menggenakan pakaian badut dan wajah serupa badut dan sedang menjadi tertawaan banyak orang yang berbentuk detakan waktu yang berputar dengan begitu cepatnya tanpa aku bisa menghentikkan mereka ataupun keluar dari pertunjukan itu.
Pasrah pada keadaan ku karena apa yang kupegang selama ini yakni tak mau melanggar peraturan..dan sejujurnya aku mulai benci dengan semua protokoler itu !!


Jika dahulu ketidak setujuan orangtua ku dikarenakan pilihan ku yang beda keyakinan maka saat ini kembali ketidak setujuan mereka akan pilihan ku karena status pria ini yang sudah pernah berumah tangga dan meski ia hanya sekali divorce tetap saja itu menjadi hal yang seperti fenomena gunung es bagi keluarga ku .


Dan saat aku di ceramahi oleh ibu kandung ku :
" selalu saja pilihan mu salah... belum pernah ada dalam keluarga dan keturunan kita turunan seperti itu...apa kata orang kalau tahu kamu akan menikah dengan pria seperti itu...apa aku adalah seorang ibu yang kekurangan uang dan sudah putus asa akut karena takut kalau putri semata wayangnya akan menjadi perawan tua sehingga memberikan putri nya kepada orang yang sembarangan  ? kamu bacalah  dalam Mark 10: 11-12 "


Dan kali ini aku hanya terdiam mendengar dia berbicara dan berceramah...tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirku ataupun tangisan meraung-raung seperti dulu...bahkan tetesan airmata pun sudah tak ada lagi ... aku menelan semuanya. Mungkin karena aku sudah sangat lelah dengan semua protokoler atau semua keadaan yang menjemukkan ku dengan selalu menganggap ku seperti kanak-kanak baik dimasa dulu maupun dengan yang sekarang ini...aku benar-benar lelah...bahkan aku sudah merasa kali ini benar-benar aku sudah tidak mau ada di tempat ini.


Pernah sekali aku memberontak dan memberikan suara yang keras di depan orangtua ku dalam hal ini adalah ibu kandung ku yang dari dulu tak pernah bisa kujadikan sahabatku meski hanya untuk menjadi pendengar ku, ia selalu menilai ku masih kanak-kanak dan apa yang aku pilih selalu salah dan pilihan dia yang selalu paling benar dan HARUS DIIKUTI.


Sangat berbeda dengan ibu angkat ku (adik kandungnya) yang membesarkan ku selama ini yang benar-benar adalah sahabatku selain Tuhan yang selalu mengerti aku dan meski melarang tindakan ku yang salah tetapi tidak sampai menjatuhkan ku sampai kedalam dengan perkataan yang membuat ku terluka .. namun ketika dalam kesepian di dalam kamar ku, aku merenung bahwa tindakan ku sangat salah terhadap ibu kandung ku dan aku sangat menyesali itu...di lain pihak pria yang sedang dekat dengan ku saat ini menilai aku tak bisa berjuang demi perasaan kami berdua dan pada akhirnya aku lah yang paling bertanggung jawab dalam hal ini menorehkan luka di dalam hati nya lewat sikap ku dan setiap perkataan ku yang kesemuanya adalah karena aku sendiri tidak tahu memposisikan diriku antara dia atau orangtua ku..


Maka beberapa hari terakhir ini aku berpikir lebih baik aku lah yang mengalah  (Lagi) ...
Aku tidak akan memilih dari antara keduanya...baik orang tua ku ataupun pria itu...
Aku memilih pilihan ku sendiri....dan pilihan ku adalah ... menyendiri untuk selamanya, mengorbankan kebahagiaan ku sendiri.. yaah mungkin seperti kata Vie “aku tak beruntung dalam cinta” dan saat ini aku akan benar-benar belajar untuk bisa menerima keadaanku sendiri dan berdamai dengan diriku sendiri.  Menumpahkan semua kesedihan dan kekosongan hatiku pada bisnis online yang sedang aku jalani saat ini.

No comments: