19 March 2015
cinta untuk Mama VS Mommy
mempunyai dua ibu (seharusnya) merupakan hal yang unik, indah, dan membahagiakan. Namun bagiku sekaligus juga adalah membingungkan.
setidaknya untuk malam ini.
ketika mereka beradu argumen hebat lewat telepon tentang peninggalan Almh.Oma & Alm.Opa
rumah tua yang sudah berumur kurang lebih 50 tahun yang sudah mengalami beberapa kali renovasi entah mengapa malam ini menjadi pembicaraan alot meski hanya lewat udara.
"mommy" ( wanita yang mengeluarkan aku dari rahimnya 32 tahun lalu secara normal) tiba-tiba meminta agar rumah tua itu untuk di jual dan hasilnya di bagi ke tiga anak almh. oma.
sedangkan "mama" (wanita yang meski tak pernah merasakan sakitnya persalinan namun yang aku rasakan jauh memiliki keterikatan bathin yang kuat dengan ku karena aku tinggal bersamanya sudah hampir 30 tahun lamanya) tetap bersikeras tak ingin menjual peninggalan terakhir almh.oma dan alm. opa meski ia hanya anak bungsu dan meskipun mommy adalah anak tertua dalam keluarga.
dan sekian lamanya mereka "beradu mulut" entah dari pembicaraan peninggalan terakhir itu berujung pada kasih sayang yang aku berikan kepada mereka berdua.
mommy tiba-tiba "menuduh" mama yang sudah menghasut aku untuk tidak membela ibu kandungnya dan mulai berbicara keras dan besar terhadapnya.. dan pembicaraan mereka mengarah kepada calon pasangan hidupku kelak.
honestly dalam hal ini aku lebih mendukung 100% keputusan mama untuk tetap mempertahankan peninggalan terakhir almh.oma dan alm. opa itu karena yang lain peninggalan almarhumah dan almarhum semuanya sudah beralih menjadi toko, ruko, dan rumah para pendatang.
terlebih memang selama ini aku begitu sulit "masuk" ke mommy karena mommy yang cenderung lebih dominan otoriternya dalam keluarga selama ini (mungkin karena mommy dulu seorang deputi manajer yang notabene sallary nya jauh dari papa sehingga karakter bossy nya masih ada hingga saat ini dan menguasai keluarga)
seperti malam ini ... aku kembali "bertengkar" dengan mommy.
aku sedikit komplain dengan sikap beliau yang masih bergaya bossy dan ikut campur dalam segala hal yang menjadi bagian ku tanpa mau mendengar penjelasan ku terlebih dahulu.
mama lah yang membuatku akhirnya belajar untuk bisa "menerima" dan "berdamai" dengan kenyataan bahwa mommy, ibu kandungku itu unik dan berbeda.
kalau diukur kadar cinta ku untuk keduanya, mama 70 % dan mommy 30 %.
aku tak membenci mommy karena aku tak mau anak-anak ku yang akan kulahirkan nanti akan membenci ku juga nantinya, aku hanya tak suka karakter mommy yang sejak dari aku kecil hingga sekarang masih tetap sama.
dan perkataannya yang selalu saja hingga saat ini kubenci "ingat bibit-bebet-bobot, gak akan dapat restu kalau tak ada ketiganya"
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment